hidup ini secerah matahari pagi dan semendung hujan
27.1.09
lost in transmission
sometimes they gave u a heavy headache,
sometimes just went away as u sleep,
sometimes run away when u laugh,
some running out your times,
sometimes they dont...
they just catch your soul as u never had this kind of before,
some they through u like a shadow in a mirror,
a dream that cant hardly believe,
and it goes around u,
like a falling stars in a falling sky
4.12.08
some think
"you r crazy!"
"i am in same!"
"insane"
so?
let we hear it again will ya
18.11.08
rain bow
Bullshit!
Semua berubah dalam waktu yang tak terjangkau,
Kebebasan menjadi nilai mutlak dalam kemanusiaan yang menjalani hati dan mimpi!
Scence of being,
Innocent attitude of being,
Mistakefull creatures lived as rainbow!
expresi tanpa henti
Sehari-hari, setiap pagi dan malam hari
Menyatukan dua hati dan pikiran
Ku mencintai diriku…
Sepertiku mencintaimu…
Seperti ungkapan hati ini, hari ini,
Kemarin dan sekarang….
Semua berjalan baik-baik saja,
Terimakasih padamu,
Sekarang aku menjadi lebih baik,
Lebih baik, lebih baik….
Bermimpi lebih indah
Hidup semakin senang
Tidurpun nyenyak sudah
Selamat malam mimpiku.
????
Hanya saja,
Kalian,
Untuk surga!?
Bahkan,.
Tidak untuk-Nya
Hanya bila,
Disini, di hati ini
Semua surga terbaring.
Hanya untuk,
Kalian,
Hanya oleh,
Dia,
Kamu.
Aku,
Mereka.
17.9.08
ब्लाजर अज तेरुस्स्स, संपे नन्ती, संपे ...
Sambil me-reka-reka makna diantara tumpukan kata.
Mengetahui,membumbui waktu yang terbaru.
Mencari arti, apa semua hanya berkesimpulan ke “Mungkin”an?
Apa “Mungkin” semua bersama meronta, bersama senang, gembira ataupun duka?
Tinggikan rendahkan kerendahan.
Rendahkan tinggikan kerendahan.
Andaiku tau semua ternyata sama…
Adakah tinggi tanpa kerendahan?????
Rendahkah tinggi tanpa kerendahan???
Terpisahkan dari belakang bara,
Rasa, nyata, namun, semu, hambar.
Diamkan gemulai tari lilin itu barang sekejap!
Pernahkah kau diam!?
Api berwarna merah jambu, biru unggu, dan sialannya, tak juga ia diam,
Hanya memberi panas, kasatmata namun tidak juga kasatrasa,
Hanya jiwa terluka.
Mengetahui mencari sesuatu hari ini seperti kemarin hari juga nanti
Mencari arti, mempelajari hikmathikmah setiap masalah
Sambil membumbui hari, mencari arti “Pasti”
Tanpa ke-Pasti-an, adakah yang berarti?
Hanya kita bisa mempelajari, namun
Enggan dengan bungkam mengkunci Satu Inti dalam jalan ദിരി.
Kita terlalu bodoh untuk kau Bilang binatang
Dan computer kita selalu pintar,
Manusia, apa yang kalian cari, tahukah
Karena mungkin ternyata kalian lari semakin menjauhinya
16.9.08
hargebas
Harga bebas
Kehidupan ini memberi sekian banyak pilihan untuk kita ambil dan kebebasan ternyata tidak dapat menjadi suatu pilihan daripadanya, karena saat kita memilih untuk menjadi bebas, maka kebebasan itu akan mengekang kita, kita akan menutup semua pintu yang mengarah pada yang membuat kita merasa tidak bebas. Memang, bagaimana pun juga, kita, manusia, tetap membutuhkan makan dan minum, berpikir, berbicara, dan seabreg kebutuhan lainnya, dan semua itu tetap mengekang kita secara langsung maupun tidak langsung. Jadi secara individual pun manusia tidak pernah menjadi makhluk yang bebas, selain, mungkin, untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Seperti disaat kebebasan berpikir membuat kita kita merasa bebas untuk tidak makan, naluri semua manusia mengetahui konsekuensi apa yang akan dihadapkan terhadap pilihan tersebut, dan mati tidak dapat kita sebut sebagai pilihan, kebebasan untuk mejalani hidup memiliki konsekuensi yang pasti akan apa yang dihadapinya nanti, namun, pilihan untuk mati sama sekali tidak memiliki konsekuensi yang berkaitan dengan pilihan seorang individu.
Disaat berhadapan dengan masyarakat pun adalah halnya sama juga, bagaimana pun jelas kita mencoba menjelaskan atau menerangkan atau berbicara tentang satu hal atau hal lain, kita akan kembali pada kenyataan bahwa mereka jugalah yang berhak untuk menentukan penilaian, percaya atau tidak, benar atau salah, setuju atau tidak setuju, sama atau beda. Intepretasi hanya bergerak bebas dialam pikiran setiap individu, hanya saja, intepretasi selalu berhadapan langsung dengan individu lain, sehingga intepretasi harus ditanggapi dengan sangat hati-hati, kita berbicara soal konflik yang tak kunjung usai jika kita menanggapi intepretasi masyarakat tak pernah sesuai dengan apa yang suatu subjek lakukan atau sampaikan. Masyarakat memang selalu menjadi objek dari suatu kebebasan, karena masyarakat sendiri tak pernah memiliki kebebasan. Karena, bahkan masyarakat pun terbentuk atas kebebasan itu sendiri. Namun individu bukan hanya satu atau dua saja, masyarakat sendiri terbentuk dari suatu individu kolektif, individu yang masing-masing menjadi subjek atas pilihan akan kebebasan sebagai seorang manusia. hanya saja kebebasan bagi satu individu tidak selalu menjadi kebebasan bagi individu yang lain. Dan kita kembali pada suatu intepretasi massa yang menjadi pemicu kebanyakan konflik sosial.
Dan suatu saat yang pasti terus terulang kembali adalah konsekuensi budaya yang telah tercipta melewati suatu rentang waktu yang tidak pendek, yang setelah menembus sekian banyak konflik, manusia, dalam persamaan-persamaannya sebagai individu, persamaan akan nilai kebebasan, keyakinan, kebenaran dan kesetujuan kolektif akan berhadapan kembali pada individu-individu baru, yang tentunya, dengan beragam perbedaan konteks ruang dan waktu, kembali menciptakan nilai-nilai serta batasan-batasan atas apa yang menjadi pilihan untuk menjadi manusia yang bebas, manusia yang terus membentuk suatu karakteristik masal, untuk dikaji kembali, nilai-nilai apa saja yang masih relevan dengan konteks ruang dan waktu maupun nilai yang sudah mulai usang dan tidak terpakai. Budaya tidak boleh bersifat statis apabila budaya itu memang merupakan hasil dari consensus yang dilandasi kebebasan memilih dari individu-individu kolektif yang bersinergis kedalam suatu konteks kemasyarakatan. Budaya harus terus memberikan ruangnya pada kebebasan yang sebenarnya tidak pernah ada untuk dipilih, untuk memberikan sedikit saja makna dalam kehampaan jiwa manusia yang terus terkekang, baik sebagai individu personal, maupun individu kolektif. Nilai-nilai masyarakat tetap merupakan objek, tetap merupakan suatu hasil yang rapuh, karena penuh dengan konflik, agaknya nilai statis dari budaya hanya akan menambah konflik dalam tubuh masyarakat yang memang tak pernah usai. Kebebasan kita memang tidak pernah menjadi nyata, sebagai individu atau pun sebagai bagian dari masyarakat, akan tetapi, manusia harus terus berkembang disaat kita terus mencoba untuk mendobrak apa yang mengekang kita, yang mengecilkan kita, yang mempersempit jarak pandang kita. Pilihan kita untuk mejadi bebas memang sudah basi adanya, namun kebebasan kita untuk memilih apa yang perlu, apa yang tidak perlu dalam menjalani kehidupan kita sendiri, jangan sampai terpasung oleh nilai, norma, adat dan budaya, biarkan nilai itu terus bergerak maju seiring waktu dan kemampuan kita untuk mereintepretsikan kebebasan manusia.
Sedari dulu kita mengenal kebebasan sebagai salah satu kodrat kita sebagai umat manusia, sedari dulu juga kita menggunakan kebebasan kita dalam memilih. Kebebasan, tak pernah lepas dari tekanan atau paksaan yang menjadikannya begitu berharga untuk dimiliki, seperti dikala ujian sekolah kita telah usai, ingatkah kalian, betapa kita merasa bebas sesudahnya. Mungkin, kebebasan selalu terasa menyenangkan setelah tekanan dan paksaan telah terlewati.
Disaat kita tidak lagi bebas untuk menentukan pilihan kita, dan kita tidak dapat berbuat apapun untuk melawannya. Disaat kita tau bahwa saat kita memaksakan kebebasan itu,kita akan memecahkan sesuatu, dan bukan hanya kita yang tak ingin hal itu terjadi, namun semua yang ada disekitar kita menuntut kita untuk mengorbankan salah satu kebebasan kita dalam memilih, agar tidak pecah dan menjadi sampah, agar tidak hancur dan tetap dapat digunakan,Masa depan cerah yang tetap utuh karena kita telah bersedia mengorbankan kebebasan kita mati ditangan tekanan hidup kita sendiri dan masyarakat.
Kebebasan kita bukan hal yang murah, yang bisa kita dapat hanya dengan meminta, membeli, kebebasan bukan kacang goreng yang di jual diemperan pasar. Kebebasan layaknya sebuah intan atau mas yang dikitari berlian disekelilingnya, sangatlah mahal harganya, sehingga kebebasan hanya bisa dimiliki oleh para konglomerat saja. Tak ada kata bebas untuk siapa yang tidak berusaha untuk membelinya. Kebebasan hanya untuk diperjuangkan. Kebebasan menuntut pengorbanan, seperti yang sudah dilakukan oleh para pahlawan kita yang telah membeli kebebasan dengan jiwa dan raganya sendiri.
GoBlog
- 07/02/06 - 07/09/06 (3)
- 07/09/06 - 07/16/06 (1)
- 07/23/06 - 07/30/06 (1)
- 01/14/07 - 01/21/07 (1)
- 06/08/08 - 06/15/08 (2)
- 09/07/08 - 09/14/08 (3)
- 09/14/08 - 09/21/08 (3)
- 11/16/08 - 11/23/08 (3)
- 11/30/08 - 12/07/08 (1)
- 01/25/09 - 02/01/09 (1)
- 06/07/09 - 06/14/09 (2)