hidup ini secerah matahari pagi dan semendung hujan

16.9.08

hargebas

0 komentar

Harga bebas

Kehidupan ini memberi sekian banyak pilihan untuk kita ambil dan kebebasan ternyata tidak dapat menjadi suatu pilihan daripadanya, karena saat kita memilih untuk menjadi bebas, maka kebebasan itu akan mengekang kita, kita akan menutup semua pintu yang mengarah pada yang membuat kita merasa tidak bebas. Memang, bagaimana pun juga, kita, manusia, tetap membutuhkan makan dan minum, berpikir, berbicara, dan seabreg kebutuhan lainnya, dan semua itu tetap mengekang kita secara langsung maupun tidak langsung. Jadi secara individual pun manusia tidak pernah menjadi makhluk yang bebas, selain, mungkin, untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Seperti disaat kebebasan berpikir membuat kita kita merasa bebas untuk tidak makan, naluri semua manusia mengetahui konsekuensi apa yang akan dihadapkan terhadap pilihan tersebut, dan mati tidak dapat kita sebut sebagai pilihan, kebebasan untuk mejalani hidup memiliki konsekuensi yang pasti akan apa yang dihadapinya nanti, namun, pilihan untuk mati sama sekali tidak memiliki konsekuensi yang berkaitan dengan pilihan seorang individu.

Disaat berhadapan dengan masyarakat pun adalah halnya sama juga, bagaimana pun jelas kita mencoba menjelaskan atau menerangkan atau berbicara tentang satu hal atau hal lain, kita akan kembali pada kenyataan bahwa mereka jugalah yang berhak untuk menentukan penilaian, percaya atau tidak, benar atau salah, setuju atau tidak setuju, sama atau beda. Intepretasi hanya bergerak bebas dialam pikiran setiap individu, hanya saja, intepretasi selalu berhadapan langsung dengan individu lain, sehingga intepretasi harus ditanggapi dengan sangat hati-hati, kita berbicara soal konflik yang tak kunjung usai jika kita menanggapi intepretasi masyarakat tak pernah sesuai dengan apa yang suatu subjek lakukan atau sampaikan. Masyarakat memang selalu menjadi objek dari suatu kebebasan, karena masyarakat sendiri tak pernah memiliki kebebasan. Karena, bahkan masyarakat pun terbentuk atas kebebasan itu sendiri. Namun individu bukan hanya satu atau dua saja, masyarakat sendiri terbentuk dari suatu individu kolektif, individu yang masing-masing menjadi subjek atas pilihan akan kebebasan sebagai seorang manusia. hanya saja kebebasan bagi satu individu tidak selalu menjadi kebebasan bagi individu yang lain. Dan kita kembali pada suatu intepretasi massa yang menjadi pemicu kebanyakan konflik sosial.

Dan suatu saat yang pasti terus terulang kembali adalah konsekuensi budaya yang telah tercipta melewati suatu rentang waktu yang tidak pendek, yang setelah menembus sekian banyak konflik, manusia, dalam persamaan-persamaannya sebagai individu, persamaan akan nilai kebebasan, keyakinan, kebenaran dan kesetujuan kolektif akan berhadapan kembali pada individu-individu baru, yang tentunya, dengan beragam perbedaan konteks ruang dan waktu, kembali menciptakan nilai-nilai serta batasan-batasan atas apa yang menjadi pilihan untuk menjadi manusia yang bebas, manusia yang terus membentuk suatu karakteristik masal, untuk dikaji kembali, nilai-nilai apa saja yang masih relevan dengan konteks ruang dan waktu maupun nilai yang sudah mulai usang dan tidak terpakai. Budaya tidak boleh bersifat statis apabila budaya itu memang merupakan hasil dari consensus yang dilandasi kebebasan memilih dari individu-individu kolektif yang bersinergis kedalam suatu konteks kemasyarakatan. Budaya harus terus memberikan ruangnya pada kebebasan yang sebenarnya tidak pernah ada untuk dipilih, untuk memberikan sedikit saja makna dalam kehampaan jiwa manusia yang terus terkekang, baik sebagai individu personal, maupun individu kolektif. Nilai-nilai masyarakat tetap merupakan objek, tetap merupakan suatu hasil yang rapuh, karena penuh dengan konflik, agaknya nilai statis dari budaya hanya akan menambah konflik dalam tubuh masyarakat yang memang tak pernah usai. Kebebasan kita memang tidak pernah menjadi nyata, sebagai individu atau pun sebagai bagian dari masyarakat, akan tetapi, manusia harus terus berkembang disaat kita terus mencoba untuk mendobrak apa yang mengekang kita, yang mengecilkan kita, yang mempersempit jarak pandang kita. Pilihan kita untuk mejadi bebas memang sudah basi adanya, namun kebebasan kita untuk memilih apa yang perlu, apa yang tidak perlu dalam menjalani kehidupan kita sendiri, jangan sampai terpasung oleh nilai, norma, adat dan budaya, biarkan nilai itu terus bergerak maju seiring waktu dan kemampuan kita untuk mereintepretsikan kebebasan manusia.

Sedari dulu kita mengenal kebebasan sebagai salah satu kodrat kita sebagai umat manusia, sedari dulu juga kita menggunakan kebebasan kita dalam memilih. Kebebasan, tak pernah lepas dari tekanan atau paksaan yang menjadikannya begitu berharga untuk dimiliki, seperti dikala ujian sekolah kita telah usai, ingatkah kalian, betapa kita merasa bebas sesudahnya. Mungkin, kebebasan selalu terasa menyenangkan setelah tekanan dan paksaan telah terlewati.

Disaat kita tidak lagi bebas untuk menentukan pilihan kita, dan kita tidak dapat berbuat apapun untuk melawannya. Disaat kita tau bahwa saat kita memaksakan kebebasan itu,kita akan memecahkan sesuatu, dan bukan hanya kita yang tak ingin hal itu terjadi, namun semua yang ada disekitar kita menuntut kita untuk mengorbankan salah satu kebebasan kita dalam memilih, agar tidak pecah dan menjadi sampah, agar tidak hancur dan tetap dapat digunakan,Masa depan cerah yang tetap utuh karena kita telah bersedia mengorbankan kebebasan kita mati ditangan tekanan hidup kita sendiri dan masyarakat.

Kebebasan kita bukan hal yang murah, yang bisa kita dapat hanya dengan meminta, membeli, kebebasan bukan kacang goreng yang di jual diemperan pasar. Kebebasan layaknya sebuah intan atau mas yang dikitari berlian disekelilingnya, sangatlah mahal harganya, sehingga kebebasan hanya bisa dimiliki oleh para konglomerat saja. Tak ada kata bebas untuk siapa yang tidak berusaha untuk membelinya. Kebebasan hanya untuk diperjuangkan. Kebebasan menuntut pengorbanan, seperti yang sudah dilakukan oleh para pahlawan kita yang telah membeli kebebasan dengan jiwa dan raganya sendiri.

tanyakan pada mimpi

0 komentar

Bukankah impian harus selalu mengkompromikan langkah-langkah yang akan diambil untuk merealisasikannya dengan apa yang disebut kolektifitas?

Objektifisme personal menjadi salah satu bahan baku yang terabaikan saat kita menginginkan perubahan untuk segera didatangkan, segala kehendak dan idealisme mati dan melayu dikala tumbukan keras pada realita dunia tidak terhindari.

Apa kini yang tersisa disela masa-masa transformasi yang semakin larut dalam mimpi-mimpi utopis? Harapan sendiri menjadi sangat eksklusif ditengah massa yang kerap bersikap apatis. Apa juga idealisme terdapat dilangit ketujuh dan terlalu jauh untuk ditempuh bangsa yang memang sudah kepalang rapuh ini? Dimana lagi kita akan taruh apa yang tepat bagi manusia untuk tetap kita bina, kenang dan pertahankan?

Realita inikah yang menempatkan satu individu dengan individu yang lain agar tetap bersiteru, bersitegang? Pertarungan berbagai kepentingan untuk diselaraskan dengan kesatuan bangsa yang terdiri dari jutaan individu berbeda.

Sebenarnya, apa yang menjadi sumbu untuk tetap berseteru antar sesama individu manusia yang kolektif? Individu-individu yang terus berkembang secara instingtif dan intuitif menuju kebersamaan kolektif, yang dibina oleh rasa akan kepentingan bersamam mimpikah? Pertarungan kepentingan siapa yang membuat kesenjangan semakin lama, semakin melebar? sedangkan kita berada dalam satu perahu dan menuju tujuan yang itu juga.

Dimanakah kita sekarang berada? Masihkah harapan menhampiri kita? dengan berjuta mimpi akan keadaan yang lebih manusiawi, kita melihat hak-hak manusia yang terisolasi atas nama ‘realitas. Hak akan kehidupan yang layak, yang sepantasnya terisikan pada setiap individu bangsa dan, yang adalah dengan sangat hormat harus diperhatikan sebagai apa yang wajib Negara berikan. Ada apa dengan Negara ini yang telah menyia-nyiakan beratus ribu tenaga kerja manusianya, menyia-nyiakan ratus ribu juga yang mereka sebut bibit-bibit unggul tunas bangsa karena terpaksa di drop-out oleh sekolahnya karena tak mampu membayar SPP? Apa karena terlalu biasa, hingga saat kita melihat apa yang salah disekitar kita pun pada akhirnya hanya memperoleh lenguhan kesal akan nasib yang tak bisa dihindari lagi?

Apa hanya karena BIASA apa yang SALAH dapat kita anggap BENAR dan tak lagi kita coba untuk menentangnya……HANYA ADA SATU KATA: LAWAN!!!!!

7.9.08

dasar pendidikan:(

0 komentar
Pendidikan dasar inikah dasar pendidikan ?


PENDIDIKAN dasar bangsa ini, dari mulai Taman Kanak-Kanak(TK), sekolah dasar(SD), dan sekolah lanjutan tingkat pertama(SLTP), jenjang historis mutlak untuk dilewati manusia-manusia unggul bangsa Indonesia. Baik itu presiden, ketua MPR, Ketua DPR, Jaksa Agung, semua pejabat Negara yang nampak bersahaja tak terkecuali untuk mengenyam pendidikan dasar. Pendidikan dasar itulah yang mengisi pondasi dalam membangun tingkatan-tingkatan pendidkan yang lebih tinggi didepannya. Apa yang kita dapatkan pada tingkat dasar dari pembelajaran manusia berdaya guna dalam setiap pemikiran dan tingkah laku kita. Nilai-nilai dasar dalam berpendidikan, nilai-nilai yang menentukan cita-cita bangsa sebagai pedoman kehidupan bernegara dan bermasyarakat.
Dengan program
Reformasi Pendidikan
WAJAR(wajib belajar) 9 tahun setelah dicanangkannya pada masa-masa terakhir pemerintahan orde baru, kita dapat melihat usaha pemerintah melakukan suatu perubahan terhadap tata cara pemberlangsungan kegiatan belajar-mengajar, antara guru dan murid, sekolah dan siswa, negara dan warganya. Perubahan yang tentunya menuju keadaan yang lebih baik dari sebelumnya. Perubahan yang dipahami sebenar-benarnya untuk menambal setiap lubang-lubang kelemahan sistim. Lubang-lubang yang setiap hari semakin lebar ulah gerogot tikus yang tetap dibiarkan liar tak terkendali. Tetapi, apa yang berubah? Perubahan apa yang terjadi? Apa memang ada yang berubah? Sistim Pendidikan kita tak ubahnya jalan desa yang rusak dikanan-kirinya, ditambal oleh tanah, dibiarkan tak diratakan, hujan, digenangi air sehingga akhirnya terjadi banjir. Sesuatu memang mulai membusuk di arena kepentingan department pendidikan dan wakil rakyat kita lainnya, dan kita semua mengetahuinya walau tak juga kuasa untuk melakukan sesuatu untuk merubahnya, namun itu tetap menjadi amanat untuk ditanggapi dan dip roses secara seksama oleh wakil-wakil kita di pemerintahan.
Alokasi dana APBN untuk pendidikan, pengembangan bakat terpadu, sarana dan prasarana yang memadai, perhatian terhadap kondisi fisik dan psikis untuk menghindari kasus siswa yang memberatkan, peningkatan kesejahteraan guru dan staf-staf pendidikan, pemerataan dunia pendidikan tinggi hingga ke daerah tingkat II, adalah sebagian dari tuntutan pendidikan sebagai bahan baku pembentukan kesejahteraan bangsa.
Pendidikan Dasar tak boleh ikut terbengkalai seperi halnya dunia sosial-politik di Indonesia. Kita semua menginginkan Pendidikan dasar untuk generasi kita berikutnya membawa tingkah polah, perilaku dan pemikiran yang membawa bangsa ini menuju kemakmuran di masa yang akan datang. Hanya saja pendidikan dasar masih menyimpan berbagai persoalan dalam menjalankan perannya. Persoalan dasar, persoalan substansial, persoalan sumber daya manusia-nya, ataukah persoalan sistim yang dipakai, persoalan apa?

***
Pada pendidikan dasar yang kita kenal terdapat sistem atau kurikulum yang mengatur setiap kegiatan siswa, pelajaran yang diberikan, hari libur, jadwal ujian, jam sekolah, dll. Sayangnya, kurikulum biasa berubah-ubah menurut kepada menteri pendidikan yang juga bergantian setiap terjadi perubahan kepenggurusan dalam kabinet pemerintahan. Dengan demikian siswa akan dibingungkan oleh jadwal kegiatan belajar-mengajar yang tak tentu, pemakaian materi pelajaran yang tak tentu, juga aturan-aturan lain yang belum lama dipraktekkan siswa harus dibungkus dan dibuang ke tempat sampah karena sudah tidak lagi diperlukan. kita melihat kembali nyatanya fakta bahwa sistim pendidikan di Indonesia belum menemukan bentuk ideal dalam perancangannya dan pelajar tetap menjadi objek dari kurikulum bunglon tersebut. Namun, entah mengapa, masalah ini tidak pernah menyelesaikan masalah penempatan anggaran dalam pendidikan yang penulis anggap sebagai prioritas pertama untuk di atasi bersama. Malahan, masalah anggaran yang sewajibnya menjadi tanggungan PEMDA setempat, seperti dilempar-tangankan kepada pihak-pihak swasta untuk menentukan sendiri biaya yang diperlukan, dan kemudian tanggungan biaya sekolah dilempar kembali dengan dalih sumbangan dari para orang tua murid untuk menutupi anggaran yang terbengkalai oleh PEMDA. Dengan kewenangan Undang-Undang Otonami Daerah kepada Otonomi Pendidikan, secara serempak, pihak-pihak yang terkait dengan pengadaan dunia pendidikan di Indonesia memasang tarif biaya dan ujian masuk sendiri-sendiri. Hal yang akan berdampak buruk di masa depan karena kualitas yang tidak merata di antara SD, SLTP dan SMU yang berbeda-beda, sehingga kesenjangan akan tetap terpelihara seperti halnya ketidak adilan social yang terus dipertahankan oleh sistim dengan undang-undang otda sebagai garda depannya.

Ketergantungan kita dalam penanggulangan masalah bangsa pada generasi mendatang, seakan tidak pernah membuat kita merasa puas keterbatasan anggaran, namun Pendidikan Dasar yang berkualitas tidak sebatas pada masalah finasial saja, kita yang pernah mengalaminya tak akan mudah mengabaikannya, bagaimana kita dibentuk, oleh siapa kita dibentuk dan kapan kita dibentuk. Pendidikan dasar di masa lalu menyimpan satu tanda Tanya besar akan nasib bangsa ini sekarang, pendidikan seperti apa yang merubah sosok manis anak bangsa menjadi lintah-lintah yang gemar meminum darah rakyatnya sendiri? Pendidikan Dasar seperti apa yang membiarkan seorang pemuda menyatroni rumah tetangga karena ketergantungan narkoba sejak dini, apa yang telah diajarkan para umar bakri terhadap wakil rakyat yang ber-adu jotos ditengah ruang sidang yang sedang berlangsung. Sebaiknya kita segera membawa ingatan kita kembali ke tingkat SD atau SLTP, apa memang semua baik-baik saja, atau kita begitu lugunya saat itu sehingga semua nampak seperti baik-baik saja?
***
Sistim belajar-mengajar yang diterapkan oleh Pendidikan dasar di Indonesia, menurut Penulis, telah melangkah jauh melampaui nilai-nilai dasar dari pendidikan itu sendiri. Pendidikan yang seharusnya penuh dengan proses interaksi, interaktif, praktek-praktek yang melonggarkan daya khayal dari murid-muidnya untuk bersama-sama dikembangkan menuju sebuah karya dari daya cipta manusia sebagai berkah illahiah yang dikaruniakan melalui naluri kreatif dari manusia. kini proses belajar-mengajar tidak lagi membukakan kreatifitas dan insting ketidak puasan akan pengetahuan dalam diri siswa, sehingga siswa hanya menjadi objek dari pengetahuan yang dibakukan untuk dihapalkan dan diingat sehingga soal-soal ujian dapat dijawab sebagaimana apa yang diberitahukan pengajarnya agar mendapatkan nilai tinggi dan rangking tinggi saat tahun pelajaran mengakumulasikan nilai pembelajaran menghapal yang diemban siswanya. Dan kala pengetahuan menjadi suatu nilai kebenaran baku, bukan untuk terus dikaji lebih luas dan mendalam, nilai kemanusiaan semakin terdekonstreuksi oleh strukturisasi jaman. Pengetahuan yang diberikan tidak lagi untuk dipahami, bukan lagi untuk dimengerti, cukup diingat dan hapalan hanya akan menghambat daya nalar pemikiran otentik manusia yang kerap berkembang. Hingga kini lembaga-lembaga pendidikan, sekolah-sekolah dasar merasa cukup puas dengan pengidentifikasian pelajaran dan pengetahuan sebagai penentu nilai yang menentukan peringkat yang didapatkannya di akhir tahun pelajaran dalam kelas, atau kasarnya bisa kita katakana bahwa pembelajaran yang diikuti para siswa-siswi sekolah dasar dan menengah hanya cukup diikuti dan dijalani agar dapat naik kelas dan tidak mempermalukan orang tua atau sekolahnya sendiri karena daya ingatnya tidak memenuhi kriteria yang telah ditentukan untuk dapat melanjutkan pendidikannya ke tinggkat yang lebih tinggi, juga mungkin untuk mempertahankan akreditasi dari sekolah yang bersangkutan akan berapa banyak muridnya yang tidak naik kelas dan berapa banyak yang naik kelas dengan nilai ingatan yang memadai.
Proses pembelajaran sebagaimana diberlakukan hamper di seluruh institusi-institusi pendidikan dasar di Indonesia telah terpaku hanya pada teks book yang diberikan oleh sekolahnya masing-masing, dan setiap ujian-ujian yang dilalui siswa terkukung dalam suatu styrotype pembenaran structural kesejahteraan dan kebahagiaan kehidupan dan keberhasilan seseorang yang hanya bisa dimiliki melalui nilai ujian yang tinggi sebagai ukuran atau acuan kesempatan yang lebih lapang nantinya, di kala menempuh pekerjaan atau kuliah tinggi, kehidupan yang menjanjikan kebahagiaan. Soal-soal ujian hampir selalu lebih mengedepankan soal pertanyaan berganda dengan pilihan jawaban yang telah ditentukan terlebih dahulu secara abjad, hal yang memungkinkan siswa mendapatkan nilai dari keberuntungan, bukan dari memori atau pemahaman mereka. Meminimalisasikan penalaran individu, karena soal essai pun cenderung mengharapkan jawaban seperti halnya yang tertera di buku panduan pelajaran sehari-hari daripada mengembangkan logika nalar dan pembelajaran personal siswa itu sendiri akan persoalan-persoalan yang biasa dan mungkin terjadi di sekitar mereka. Jaminan siswa untuk pendidikan yang mereka lalui akhirnya hanya menjadi pengisisan memori terus dan terus tanpa pengimbangan pengembangan kreatifitas siswa dan penalaran. Hanya peningkatan daya ingat mereka yang mutlak terus ditingkatkan oleh aturan dan acuan yang mereka gunakan untuk mendapatkan nilai yang bisa membantu mereka mewujudkan apapun cita-cita ataupun harapannya di masa depan.

Kondisi dehumanisasi yang penulis pandang dari nilai dasar kemanusiaan hanya akan semakin membawa manusia Indonesia kepada kematian proses pengembangan ide, nalar dan daya imajinatif dari siswa yang terpakukan batasan-batasan nilai yang wajib untuk ditempuh sebagai “satu-satunya” jalan menghadap ke masa depan yang terciptakan, juga oleh batasan structural sosial, politik, dan ekonomi, yang dipaksakan metode ini terhadap masyarakat secara hegemonial, kewajiban manusia menjalani hidup yang dihadirkan dan dijalankan tidak atas kesadaran individu akan pilihan-pilihan yang terbebaskan dari setiap batas ketergantungan. Represivitas maya telah mengkondisikan kehidupan layak yang hendak kita dijalani kelak. Hegemoni memayakan keterkekangan manusia dari pilihannya sendiri sejak dini, dan lembaga-lembaga dan institusi pendidikan dasar akan menjadi instrument yang sangat berguna, karena kelak masa depan setiap sendi Negara ini akan dikelola siswa-siswi yang saat ini hanya dibiasakan menulis catatan dan mengingat isi jawaban, yang tidak diperkenankan untuk menanyakan alasan, dan bahkan dikeluarkan dikala jawaban dari alasan ditentang dengan argumen lain yang dimiliki siswanya.
Dapat kita lihat pula tekanan nilai psikologis yang sudah ditanamkan pada para murid, bahkan sejak lingkungan pendidikan dasar, saat dimana seorang anak tanpa menyaring kembali, memasukan semua input yang didapat dari lingkungan ke dalam pikirannya. Lingkungan pendidikan dasar yang diharapkan menjadi akar dari akhlak dan moral bangsa sudah bergerak terlalu jauh, menjauhi nilai dasar dari pendidikan itu sendiri. Sekolah dasar adalah taman bermain untuk mewujudkan berbagai ide dan daya khayal murid yang sedang berada pada tahapan bermain. Saat kita melihat semua objek materi dari pendidikan yang diwajibkan menjadi input utama menuju masa depan bangsa kita, pendidikan dasar inikah dasar pendidikan tunas-tunas bangsa ?

Ngentocz Aza, Enak kaleeeee......

0 komentar
Untuk orang yang menilai buku dari cover-nya aja, ngentot aja!!!!

hampir Semua penerbit menilai kelayakan suatu buku untuk diterbitkan bukan dari nilai sastra yang dibawanya, mereka melihat nilai jual dari penulis dan tema yang dibawa sebagai nilai yang menentukan laku ato nga nya sebuah buku!!!!!

tolol, bukan yang disampul plastic atau yang tebel2, bukan yang kertasnya bagus, bukan yang memang ditulis oleh pengarang penerima nobel dari dunia per-sinetronan, semua hanya bergerak atas dasar nilai jual nya aja, bukan itu, pengetahuan dikecilkan oleh nilai ekonomis sebagai pelapis mereka dalam dunia yang menuntut finacialitas tinggi
Cari buku yang paling tipis, penerbit ga terkenal, pengarang anonym, kucel dan tentunya hanganya murah, jadi ga diplastikin, plastic itu hanya membuat kita tidak bisa melihat content atau gaya bahasa yang dipakai pengarangnya, baca dulu, tau sedikit, kena ke hati, baru beli……jangan mau dibodohin, kalo perlu sobek aja dulu plastiknya, rusak rusak dah, yang penting bagus nga nya dah ketauan.

Buat orang yang biasa nilai jawaban sebelum ngebaca seluruh alasan yang dikemukakan !!!!ngentot!!!anjing busuk biar jadi menu makan malam kalian!!!!!
Ngerasa tau apa yang orang pikirin padahal nanya juga blon!!!!ngentot aja di kuburan lu sendiri!!!!

Siapa yang ngijinin lu ngasih nilai ke gua, nanya aja nga, gua nga butuh penilaian lu, kritik atau saran sih Ok buat gua dan gua hargaiin semua itu lebih dari satu miliar doa, tapi nilai, nilai hanya akan membekukan air yang lagi deras-derasnya ngalir, nga bisa lu minum ato mandi darinya, ngabisa ngalirin sawah-sawah lu, paling juga buat maen ski, dan tetep aja dingin. Oya by da way makasih atas perhatiannya ama gua, ngapernah nyangka bisa segitu gede perhatiannya, moga lu nga lagi jatuh cinta ama gua, serem gua…..

Nilai yang kalian berikan ke orang-orang disekitar kalian, mau A-ke, K-ke,10-ke,0-ke,whatever, bakal berbalik mengekang kalian atas apa yang sebaiknya dilakukan atau apa yang tidak baik untuk dilakukan, bila memang bukan dikala sekarang, suatu saat mungkin, bukannya ngedoain, tapi nu sudah-sudah juga gitu, seperti memang manusia tak luput dari kesalahannya, dan nilainya mulai membekukan air hangat yang lagi deras-derasnya di hati lu seketika, bisa ngebayanginlah, mobil yg lagi ngebut direm ngedadak, tamparan keras bakal kembali menyadarkan kalian bahwa hanya Yang Maha Sempurnalah yang berhak menilai sagala sesuatu apakah itu benar atau salah. Kita hanya diperkenankan untuk berusaha segenap daya dan upaya, dan pada akhirnya pasrah, biar nga ngebawa beban sekalian pas nanti tidur panjang di satu saat…….edan!!dah kaya ustad blon gwa?????he………..

Hati kalian memang busuk, bau, kaya air kencing, pernah lu ngerasain air kencing lu sendiri? Disitu bakal kerasa apa yang sehari-hari hati lu proses, dan bukan hanya merasa bangga atas kebusukan hati kalian, kalian bahkan terus menghinakan apa yang baik dan mengagungkan apa yang busuk atas nama gaul, kul, wock’n’wow n metal (hah?da metal mah musik asanamah, lain kalakuan) dan sajabana……
kalian bahkan tidak mau berusaha untuk menjadi seseorang yang lebih baik, kalian terlalu takut disebut muna, ato sok bijak, ato sok pinter, sok dewasa, sok alim, sok ngerti,dan berpuluh ratus sok lain yang kalian hindarin dari penilaian lingkungan terhadap kalian, sehingga perlahan-lahan jiwa kalian terkubur dalam tangisan bisu, diinjak-injak oleh pemikiran-pemikiran yang dengan arogannya kalian sebut sebagai pemikiran logis dan realistis, hanya untuk menipu hati yang sudah tersiksa hitungan dosa dan pahala…apa yang real bagi kalian?manipulasi tengik dari hegemoni global kapitalis, CNN, MTv, McDonald, apa karena budaya barat memang telah menjadi dewa yang kalian sembah? apa logika kalian telah menghalalkan uang rakyat yang mereka korupsi karena hal itu realita dan menjadi kaya dengan segala cara ialah logis adanya….(mun urang terkesan munafik?emang bener, karena yang kalian dewakan tidak pernah diterima oleh hati ataupun logika nalarku sekalipun)…
busuk, memang busuk, lalu apa?tobat, masih terlalu muda untuk tobat, bunuh diri, ah bahkan ngeggores tangan sendiri aja kalian tidak berani, berubah, jadi apa?karena kalian memang tetap diri kalian segimana pun adanya,dulu, sekarang, ntar juga sama, tantang aja al-quran, injil, dan semua nilai kebajikan yang memang dah kalian ngerti dari lahir dulu, bunuh aja tuhan, kaya yang nietzshe lakukan, kalo emang kalian pikir tuhan terlalu maruk untuk ngambil nilai semua hal yang baik dan ngehina hal yang jelek sambil menuduh setan yang juga ciptaannya sebagai kambing hitam, seperti apa yang kalian rasakan, iri, benci dan dengki. dunia ini dah ngasih seabreg pilihan buat kita jalanin di keseharian kita, semua juga berasal dari kita dan bakal balik lagi ke kita, bukan lingkungan kita ko yang bakal nebus apa yang kita buat, ato apa yang kita rusakin, entah sekarang, besok ato kapan pun kita bakal kembali dilingkaran yang sama, dengan air yang tetep bermolekul H2O, dengan matahari dan bulan yang itu juga, mikirin diri sendiri aja dah bikin pusing seratus keliling lapangan bola, jadi ngapain nambahin pusing ngenilai apa yang orang lakuin, cuek aja, dia tetep dia, mau lu gimanain juga, dan lu tetep lu mau dia gimana juga……sekian curhat gwa dan thanx karena seperti pas kita boker, hitut ato kencing, ngeluarin sesuatu dari dalem diri kita emang suatu kenikmatan, tp masukin sesuatu kedalem nga selalu enak(tergantung selera&sikon), lagian temen tetep temen….chiiiiiiirsssssssss.

note:semua kata kalian, kita, lu dan gwa harap dikembalikan kepada sipenulis sebagai orang ke-satu,ke-dua,ato ke-tiga, disini bukan nyoba ngeguruin kalian, tp ngeguruini dirinya sendiri, did I ever said that I ever buy the book by I’ts cover?well, I did, I buy the book by it’s cover, but still I judge the book after I read it, not before…………….

EduSysKillNation

0 komentar

“Lingkaran setan” sistim pendidikan di Indonesia

Anak seorang kuli bangunan hanya akan berputar dalam nasibnya sebagai generasi keturunan seorang kuli, menjadi kuli kembali seperti telah sedemikian rupa sehingga jembatan yang harusnya dilalui untuk mendapatkan kesejahteraan dari pekerjaan yang layak tak kunjung rampung dibentangkan pemerintah.

Manusia Indonesia menjadi masyarakat aktif yang terperangkap tanah yang mana ia tinggali sejaknya hadir di dunia ini

“Lingkaran setan”, yang penulis bentangkan sebagai awalan judul, mengapa ungkapan tersebut terkesan melecehkan, pendidikan adalah hal yang dimuliakan setiap insan manusia kapanpun dan dimanapun manusia berada. Bila sistim pendidikan kita telah menjadi suatu sistim “lingkaran setan”, bagaimana dengan sumber daya manusia yang dihasilkan oleh sistim tersebut? Kesalahan apa yang singgah di sistim pendidikan Negara kita, sampai dengan sangat lancang saya menyebutnya sebagai “Lingkaran setan”.

Seperti kita ketahui sejak TK-Taman Kanak-Kanak, tempat pertama kita belajar menggambar lingkaran- lingkaran menunjukan suatu arah pergerakan pada jalur yang tetap untuk kembali ketempat semula- sistim pendidikan di Indonesia dapat kita analogikan seperti halnya sebuah lingkaran, berputar di tempat yang sudah dibuat jalurnya oleh siapa yang membuat lingkaran itu. “setan”, adalah kata paling tepat yang bisa saya ambil untuk menganalogikan hal buruk yang terjadi, sehingga kebenaran menjadi semu dalam dosa, dan ternyata semua dibiarkan terulang kembali, hal salah yang terus diperbenarkan sehingga apa yang salah menjadi biasa, dan hal yang biasa tidaklah salah kala kebenaran dibakukan oleh siapa yang ber-Hak untuk menjadikannya biasa, apakah itu benar atau salah. Dalam hal ini siapa itu akan saya kaitkan dengan Pemerintahan yang berwenang, Departemen Pendidikan, Instansi-instansi yang terkait dalam dunia pendidikan, dan mereka, yang terus melestarikan sistim yang menurut saya sendiri sangat pantas dianalogikan seumpamanya “setan”. Makin kesal karena kelancangan bahasa yang saya pakai? Mari kita lihat bagaimana lingkaran dalam sistim pendidikan di Indonesia terus berputar di sumbu yang sama, sedangkan bangsa kita sudah sangat mengharapkan lingkaran tersebut untuk bergerak secara spiral, lingkaran yang memang melingkar namun bergerak maju, mengarahkan jalannya pada keadaan idealnya.

Kungkungan nasib

Pernahkah anda membayang, terjebak dalam posisi dimana anda tidak dapat bergerak sama sekali, kekanan maupun kekiri, keatas pun ke bawah, ke depan juga ke belakang. Sistim pendidikan kita dapat diibaratkan tembok besar pembatas kesejahteraan bersama, tinggi dan tebal, tak lagi terjangkau oleh masyarakat marginal yang ternyata merupakan mayoritas dari penduduk di Indonesia. Sebagai contoh, di jawa barat, sebanyak 182.432 anak usia sekolah dari golongan keluarga kurang mampu, atau sekitar 83,96 persennya dari anak–anak usia 7-15 tahun ternyata tidak dan belum mampu menempuh pendidikan sekolah(“PR”, sabtu (26/3)), di Kab. Garut saja lebih dari 90.000 siswa dari tingkat SD, SMP, dan SLTA, terancam tidak dapat meneruskan pendidikannya dikarenakan alasan ekonomi(“PR”, senin (28/3)), ya, ekonomi memang tak terbantahkan, tembok besar sistim pendidikan di Indonesia ini memang dibangun dari semen yang bernama Financial support.

Standar kehidupan bangsa

kenyataan jauh berada diatas khayalan jika kita berbicara uang sebagai factor utama, lebih baik kita kembali menuju masalah paling klise dalam kehidupan Negara yang sedang berkembang, perut. Bagaimana bisa menjadikan pendidikan sebagai prioritas hidup masyarakat dalam menghindari kemiskinan dan kemelaratan, dikala perut terus merongrong dan rasa lapar mengabaikan logika hidup bermasyarakat, jangankan pri-kemanusiaan, untuk tidak menjadi pencuri dengan sebilah pisau ditangan dan perut yang terhimpit nadi menahan lapar yang mencekik usus dan lambung saat menemui kesempatan untuk merampok adalah sulit, sesulit menjalanin hidup itu sendiri. jelas sekali, keseimbangan antara income dan ekspenditure tidak pernah menemui titik equilibrium-nya, sembako dan seabrek masalah lainnya berada ditengah masyarakat yang mulai mencoba menerima akan tertindasnya hak-hak mereka oleh para oknum aparat yang memang keparat. Masyarakat menjadi apatis, sesuai dengan harapan birokratisasi, sebagai sistim penuh korupsi dan anti-kompromi namun cepat berganti kulit kala demo massa menghalangi kekuasaannya. Oknum pejabat yang hobinya menyunat anggaran saat sampai di meja kantor mereka.

Ekonomi kita semrawut, kesenjangan terus menjauhi kondisi social yang ideal dari tatanan masyarakat demokrasi. Rakyat diyakini lebih mengetahui harga sembako terbaru daripada mengetahui kebijakan politik terbaru. Apalagi untuk bersusah-payah mendemo pemerintah untuk mengambil tindakan dalam pengentasan kemiskinan, pembodohan, dan berbagai macam masalah bangsa lainnya. Strukturisasi kerakyatan oleh pemerintah birokrat seakan-akan mengiring kita semakin apatis dari kenyataan bahwa sesuatu dalam tubuh bangsa ini sedang kronis, sehingga kehancuran menyeluruh nampak menjadi solusi terakhir untuk bangkit kembali. Akan tetapi, walau kehancuran seperti apapun melanda kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia, kerusakan pada pendidikan bukan hal yang bisa ditoleransikan, bahkan oleh bangsa se-toleran bangsa Indonesia, pendidikan sekarang seharusnya dapat menjadi batu loncatan menuju suatu masyarakat demokratis yang aktif dan partisipatif dalam membangun bangsa di masa yang akan datang, futurechild, dimana globalisasi dan kerajaan imperialis adalah nyata dan mutlak. sehingga hanya kesadaran pada setiap individu berkualitas yang terbentuk oleh pendidikan, yang dapat menyaring baik-buruk, tepat atau tidaknya suatu peradaban untuk dijalani hidup ini.

Data menunjukkan sekitar 144.239 anak usia sekolah yang masih berminat untuk melanjutkan sekolahnya di jawa barat tidak mampu menyelesaikan pendidikan wajarnya( Wajib Belajar)- program yang telah dicanangkan oleh pemerintah sejak orde baru, yaitu pendidikan wajib selama 9 tahun, atau SD dan SMP-, Program beasiswa yang ikut menjadi bagian dalam pemberantasan kemiskinan dan pembodohan tidak berjalan efektif, dan akhirnya hanya menjadi bahan korupsi, kolusi dan nepotisme bagi orang-orang yang mempunyai kekuasaan dari padanya. Pendidikan diperuntukan hanya untuk orang kaya, yang mampu untuk membiayai anak-anaknya bersekolah.

Kesenjangan social (social bond) akan kita lihat setiap harinya mungkin untuk beberapa tahun lagi kedepan, karena Pendidikan, sebagai kayu pendobrak tembok kesenjangan social, terisolasi oleh sistim yang beraffiliasi dengan kepentingan kaum priyayi, borjuisasi capitalis local, saat menentukan berapa besar biaya untuk bersekolah dan prasyarat dalam menentukan juga tingkat pekerjaan, baik pekerjaan di instansi negri taupun swasta. Bagaimana cara agar anak seorang kuli bangunan dapat menjadi seorang dokter umum, baik di sekolah negri maupun swasta, biaya masuk sekolah kedokteran amatlah besar, mereka tidak akan mampu membiayainya! Mungkin hanya anak seorang dokter atau anak pejabat atau “ningrat” yang mampu. Anak seorang buruh hanya akan akan menjadi seorang buruh masa depan, itu kenyataan, dan seorang buruh sudah terlalu banyak memiliki masalah tersendiri untuk dipikirkan, selain hanya bermimpi di siang bolong kala istirahat kerja menyapa angan tentang anaknya yang sedang diwisuda di salah satu universitas favorit di kota favoritnya. Lingkaran setan sistim pendidikan indonesia telah mengebiri setiap mimpi-mimpinya, membawa pergi angan, lalu meninggalkan kehampaan bersamanya.

Baiklah, kita telah menelaah bersama bagaimana kekuatan financial di sisi yang kiri terus menerus membatasi pergerakan kelas sosial masyarakat di tingkat bawah. Sekarang, mari kita melihat sisi lain dari financing sentralisasi pendidikan, yang berbuntut panjang-pendidikan mencetak sumber daya manusia Indonesia di generasi yang akan datang-, bertanduk dua, sambil membawa garpu tala ditangan kanannya.

Jaminan pendidikan

Pendidikan tingkat tinggi, dalam hal ini, SMA, baik kejuruan, keterampilan, keguruan, dan lainnya, terorientasi di kota. Orang desa dan kaum miskin kota, bagi mereka, sekolah dapat diibarat tangga berjalan di mal-mal kota, tangga yang akan membawa generasi penerus mereka naik ke tingkat yang lebih tinggi. Tapi, mungkin disini jugalah tempat salah satu sumber kesenjangan bertahan dan atau memang dipertahankan, bagaimana mereka, dapat diperbolehkan sang Satpam untuk masuk ke mal, sedang alas kaki yang mereka pakai hanyalah sepasang sandal jepit. Mereka bukan tidak mau memakai sepatu, mereka tidak mampu membelinya!

Biaya sekolah mahal, belum lagi SPP setiap bulan-nya, juga baju seragam, buku sekolah, ongkos naik angkutan ke sekolah, dan segala macam persyaratan financial lainnya yang akan mereka tanggung kemudian. Di kota itu, Urbanisasi tidak terbendung dari masyarakat pedalaman yang mencoba menaikan status keluarganya lewat jalur pendidikan yang diharapkan masih dapat dibiayainya, angka penganguran terus meningkat, seiring persyaratan yang tertoreh pada suatu iklan lowongan kerja di suatu surat kabar harian, lowongan tersebut hanya mempertimbangkan lamaran dari lulusan Pergururan tinggi tertentu-tentunya perguruan tinggi dengan nilai akreditasi yang tinggi pula-. kriminalitas pun menjadi jalan keluar yang paling diminati tuk menimba ilmu- mungkin, di dalam penjara-.

Perguruan tinggi adalah sama halnya, semakin bagus kualitas dari Perguruan Tinggi tertentu, semakin tak terjangkau-lah biaya yang harus dikeluarkan seorang siswa untuk bersekolah ditempat tersebut, selain biaya SPP dan atribut lain yang harus dibeli, biaya kost-kostan dan uang saku bulanan mereka hanya terjangkau setelah beberapa hektar sawah dan atau ladang tempat orang tua mereka bercocok tanam harus tergadaikan pada para makelar tanah dari kota yang telah bersiap menyulap lahan tersebut menjadi lapangan golf, resort, villa, dll. Dampaknya, masyarakat yang sudah bersusah payah, banting tulang, jual sawah, patah-patah, untuk menyekolahkan anaknya, kembali terdampar tak berdaya dikala waktu membawa mereka melihat ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Hanya beberapa anak mungkin dapat terselamatkan, tetapi, dari sini kita akan mulai melihat kembali “lingkaran setan”. setelah melihat kembali(re-view) atas besarnya biaya yang mereka keluarkan dalam menyelesaikan pendidikannya, dan mereka memperoleh pekerjaan yang mereka damba-dambakan, tidakkah mungkin, orientasi pikiran mereka akan tetap terbelenggu suatu balas jasa kepada kedua orang tua yang telah membiayai mereka, dan sebenarnya hal itu bukanlah suatu masalah selama mereka memakai uang halal hasil kerja keras mereka, akan tetapi, mencari jalan singkat untuk menggantikannya lewat budaya korupsi yang sudah menjadi hal lazim di masyarakat. Atau mungkin kesan balas dendam terhadap kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi selama mereka menempuh pendidikan dan dalam mencari sampai akhirnya mendapatkan pekerjaan tetap mengitari kepala dan hati yang menolak pergi, apa yang tidak dikehendakinya nanti, kembali, uang akan menjadi prioritas yang bisa membutakan mereka dalam menjalankan pekerjaannya, karena mereka juga menyadari -setelah apa yang mereka lalui- keturunan mereka hanya bisa bersekolah tinggi dengan biaya yang juga tinggi. Sekarang berapa biaya yang perlu dikeluarkan untuk seorang anak, hingga anak itu mampu menyelesaikan study S3-nya. Adakah 100juta, 200juta atau lebih????tidak akan adakah suatu rasa tak berterima kasih???ya, ada, dan salah satu caranya adalah meneruskannya pada keturunan selanjutnya, dan selanjutnya, dan selanjutnya…….masih ingatkah, teman bermain sedari kecil, tetap kecil, hanya karena dia berada di suatu keluarga kecil, tanpa mengecilkan hati, mereka juga ber-Hak untuk mendapat pendidikan dan pengajaran yang layak.

Lingkaran setan

Maka, sebagian kecil dari kaum papa yang lolos dari “lingkaran setan pendidikan kaum papa” akan memasuki “lingkaran setan pendidikan kaum kaya”, dimana prioritas kehidupan mereka menjadi sekedar mencari uang tambahan untuk membiayai keturunannya bersekolah lebih tinggi. Bagaimana dengan masyarakat yang jelas-jelas tak berdaya dan hanya mampu menyelesaikan sekolahnya? mau tak mau, dengan hanya menyelesaikan pendidikan tingkat dasar, mereka hanya dipercaya untuk berada pada pekerjaan yang tergolong kasar dan rendahan, dengan gaji setara UMR regional, persyaratan untuk mengisi sebuah jabatan penting di pemerintahan pun tidak akan menerima lamaran seorang lulusan SMA saja, walaupun capabilitas dan pengetahuan yang dimilikinya dari pengalaman kerja bertahun-tahun sangatlah layak untuk menduduki jabatan tersebut. Tak ingin khayalan-nya tersangkut di tiang jemuran, mereka masih mencoba bersyukur, anak-anaknya masih bisa makan dan uang kontrakkan rumah masih dapat dicicil.

Disitulah kaum papa berputar pada lingkaran yang tak kunjung menciut oleh bergulirnya waktu. Jabatan-jabatan penting Negara -tentu-nya mereka jugalah yang membuat sistim pendidikan di Indonesia, mereka jugalah yang membuat sekolah-sekolah swasta, perguruan tinggi-perguruan tinggi dengan harga tak terhingga- kembali berputar pada lingkaran yang itu juga, hanya saja semakin membesar, seiring rasa cinta mereka pada harta, jabatan, dan kesenjangan antar kelas dimasyarakat terus membesar.

Alhasil, pendidikan tinggi, universitas-universitas, Sekolah tinggi-sekolah tinggi, hanya milik masyarakat golongan atas, orang-orang berduit. Golongan priyayi, seperti hal-nya jaman kolonialisme, ternyata kita masih berada pada pattern yang sama, hierarchy yang mencintai budaya feodal dan tetap merasa nyaman didalamnya, bahkan disaat kaum papa masih meminta-minta di sisi jalan raya, tidak untuk biaya sekolah, hanya untuk sesuap nasi, menambal hari. Tiada pernahkah mereka, orang–orang yang duduk bersama mendiskusikan pengalokasian dana dari APBN untuk pendidikan, melihat, bahwasanya hanya pendidikan yang terorientasi pada grassroot-lah yang akan membawa bangsa ini ke tingkat lebih baik dari pada mengabadikan kesenjangan dengan segala macam pertimbangan hal lain yang lebih bersifat jangka pendek-hanya seiring masa jabatan yang akan dipegangnya-.

Konsentrasi pendidikan yang tidak terpusat diperkotaan, penempatan guru-guru dengan tingkat kesejahteraan memadai, dengan bangunan dan prasarana yang turut menunjang juga, seperti, perpustakaan, computer, pendidikan keterampilan dan pengasahan bakat yang terpadu secara maksimal di seluruh penjuru negri ini. Dan mereka tidak perlu ikut pusing memikirkan berapa besar biaya yang perlu dikeluarkan, bukankah UUD’45 sudah dengan sangat jelas menyatakan bahwasanya pendidikan itu adalah hak segala bangsa, hak masyarakat yang wajib terakomodir oleh dana yang teralokasi oleh APBN.

Antara realitas dan impian kita

Pendidikan diberikan gratis adalah utopis? mungkin, dengan bunga utang luar negri kita yang harus dibayarkan setiap tahunnya, dan segala macam pertimbangan lain menentukan besar alokasi dana RAPBN. Pendidikan gratis tidak tidak realistis? Tunggu dulu, apa RAPBN kita juga realistis, berapa banyak hal dianggarkan untuk yang tidak perlu menjadi mutlak perlu, komplek peristirahatan para anggota DPR, mobil mewah, rumah berinterior hotel bintang lima yang dibangun ditanah hasil gusuran rakyat yang memilihnya sebagai wakil di DPR, realistiskah disaat kondisi bangsa sedang kritis-kritisnya? khusus untuk pendidikan, sebagai tiang penyangga generasi penerus bangsa, tidak boleh ada kata mimpi siang bolong. Semua pihak harus ikut berperan dalam menjadikan hal yang utopis itu menjadi realistis. Wakil rakyat, rakyat, instansi-instansi pendidikan, lembaga-lembaga independent dari graasroot, yang memang menginginkan kesejahteraan di bangsa dan negaranya sendiri, daripada hanya sibuk memikirkan kekayaan pribadi. Semua memang menginginkan kesejahteraan, tetapi bagaimana Negara, sebagai pihak yang diberi kewenangan untuk mengurusi warga-nya dapat secara optimal memberikan apa yang sudah menjadi hak seorang warga Negara?

Bukan dengan mempertanyakan apa yang sudah kita berikan sebagai rakyat, tapi, apa yang sudah mereka-negara, pemerintahan, instansi terkait- pada kita sebagai orang yang telah diberi mandat oleh kita untuk mengurus kita sebagai rakyat, sehingga kesejahteraan bisa dirasakan oleh semua pihak, bukan hanya segelintir orang yang sudah merasa nyaman dengan jabatan dan kekayaannya.

8.6.08

isuk....

1 komentar
Besok pagi, saat kicauan burung membangunkanku, aku akan pergi. Sudah dua tahun ini ku rencanakan kepergian ini. Pikiranku sekarang sudah mantap, aku akan mencari setetes air surga untuk membasahi bibirku yang kering, haus akan kebahagiaan.
Ku hirup kembali udara malam itu seakan tak akan lagi kurasakan yang sama. Masih aku berpikir, semua yang sudah kulakukan, apa yang telah ku bangun dengan keringatku sendiri, canda tawa yang tak pernah kurang dalam mengisi hari-hari yang kulalui bersama teman-teman dekatku.
Disini aku terjebak.
Ikatan yang mulai membawaku pada ketakutan. Hal yang sangat ingin kuhindari, ya, ketakutan yang meresahkan pikiran.
Deru mesin mobil yang berlalu dihadapanku menyisakan bau asap knalpot, tatapan mata orang yang sedang menikmati kopi hangat di genggaman tangan kirinya, sepuhan asap rokok dari tangan kanannya, tatapan yang begitu kosong, rapuh, tertelan semua pikiran yang tak henti menyapanya dibalik semua kebahagiaan yang telah dilaluinya. Secarik senyum simpul terkembang, kenyataan berbaik padanya, dan dia menyadari betul hal itu.
Kulihat salah seorang teman lama sedang berkumpul bersama teman-temannya, menuangkan kembali minuman dari botol gepeng yang dipegang. Gravitasi kah yang dia coba hindari? Ataukah gravitasi itulah yang dia cari? Gelak tawa yang menyenangkan, namun pikiranku terlalu lelah untuk sekedar menyapanya, kuteruskan langkah kaki ini tanpa tujuan pasti, sekedar menikmati.

dan begitulah...

0 komentar

Dan begitulah………

Persetan nilai moralitas !

Sesama, kami mengerti!

Langsung tak langsung,

sekarang dan nanti

Biarkan kami menilai

Dari sudut kiri mata ini,

sebagai sesama,

sebagai manusia sepertinya

Persetan penolakan kebijaksanaan!

Setiap saat kami menolak, setiap saat menerima ungkapan

Penolakan!

Setelah semua terisi dari semesta raya,

sama!

Ini bukan Yin & Yang,

simbol keseimbangan ,

metafora dan semesta bersama,

Yin adalah Yang.

Dan,

Begitulah........